//
arsip

Mainkata

This category contains 47 posts

what do

What do I do? What do I see? What do I hear? What do I taste? What do I touch? What do I smell? What do I think? What do I feel? What do I do? I can’t even understand what am I.

memorial

Dan pada akhirnya, rangkaian kebahagiaan ini harus ditutup dengan manis. Aku ingin membalik jam pasir seperti sediakala, dan kita kembali menikmati waktu-waktu langka yang dulu pernah menggoreskan batang karbon di atas buku harian berselimut kuning bertitel mimpi yang dibeli.

underdog

Maybe these days are having no good track in your record book, but that’s not a big deal for an unexpected one. In this state, I can act like an underdog who never be counted–we can categorize it into a group titled “advantages”. Maybe I have more added-value to improve my score, or simply I … Baca lebih lanjut

kompromi menjelang tidur

Ini adalah detik menjelang kupejam dua jendela yang konon merangkap sebagai terowongan yang menghubungkan logika dengan rasa. Pada detik-detik ini adalah sebentuk kompromi yang diberi sesaji: pemakluman atas nasib buruk atau pengingkaran atas nyeri di ulu hati.

closer

To be closer is better enough. I enjoy our moments together over that small sofa: we talk in curious way to explain, showing the way how caring to each other, and we have another quality talk in a short-seemed time.

today

The sun is showing its shy in the morning. I can see the sky still burned in gray, waiting for someone who opens its curtain to the bright. This is the most blissful day for anyone who gets the victory—a day to show our love and care to the others.

rinduimu

Belakangan ini aku tak sempat mengalihkan pikiran-pikiran nakal dari satu rangkaian huruf yang secara umum dapat kita sebut dengan istilah “kangen”. Siapa bilang kerinduan itu adalah sesuatu yang mustahil dirasakan oleh orang yang tak punya peradaban? Orang ini bisa jadi adalah contoh yang bagus untuk dijadikan bahan penelitian.

delusi siang hari

Ingin kusiram segalon minyak kelapa sawit pada sekujur tubuhmu. Aku tak perduli tetangga sialan itu  marah-marah karena devisanya kubuang percuma; bagiku ini tak sekedar membuang sial, tapi sebagai satu cara melicinkan jalan. Dengan begini, usahaku lebih mudah merengkuhmu.

Kicau