//
sedang membaca...
Celoteh

Kemacetan Bla Bla Bla


Pasti pusing deh kalo kita diajak mikir tentang kemacetan. Jangankan mikirin, lagi kena macet aja udah pusing tujuh keliling. Apalagi kalo kena macet gak jelas, atau macet yang tiba-tiba. Kalo gw sih akhir-akhir ini sering kena macet di daerah Depok Lama karena di sana sedang dibeton, tapi kalo pagi orang-orang yang berangkat kerja pake motor itu suka sembarang serobot, ambil jalur berlawanan, dan akhirnya terjadilah deadlock.

commuterline_berita8681294@
Depok-Jakarta vs Depok-Bogor

Alkisah dalam seminggu terakhir ini gw suka bertugas di Bogor, ceritanya mapping area sana. Jarak dari rumah gw ke cabang Bogor itu sekitar 25 km, lebih jauh dibanding ke kantor pusat di TB Simatupang yang cuma sekitar 16 km. Tapi masalah waktu tempuh, sama aja, sodara-sodara. Sama-sama makan waktu kurang lebih satu jam di jam sibuk.

Selama bertugas di Jakarta, macet di Lenteng Agung sampai Tanjung Barat itu sih udah jadi makanan sehari-hari. Pulang pergi, sama aja. Apalagi kalau hari Senin, gw harus spare waktu sekitar 30 menit lebih awal, jaga-jaga kalo ada macet gak jelas. Imbasnya gak cuma ke fisik yang capek, tapi juga ke konsumsi bensin. Alhasil jadi lebih boros karena macet.

Ketika gw bertugas di Bogor, awalnya gw pikir karena jauh pasti akan lebih lama dibanding ke pusat. Tapi ternyata enggak, malah gw lebih nyaman di jalur Depok-Bogor daripada Depok-Jakarta. Jalan rayanya luas, dan relatif gak padat. Hambatan gak banyak, jadi gw bisa stabil dengan kecepatan sekian di jalan. Capek? Iya, pasti. Tapi masih mending banget daripada macetnya Depok-Jakarta.

Waktu balik ke kantor pusat, gw kayak orang baru pertama ke Jakarta lagi. Kaget lagi sama macetnya. Karena memang macetnya itu suka gak penting, dan relatif sulit diprediksi. Hari ini macet, besok bisa jadi malah lancar jaya. Apalagi kalo mau prediksi panjang macetnya, almost impossibro. Kadang pendek, kadang panjang. Kalo Senin sih pasti panjang.

image163

Pagi-pagi, gw udah mulai geregetan kalo lagi memandang jauh ke depan di jalan raya, ambil contoh Jalan Margonda, Depok. Jalan Margona itu luas banget, tapi sejauh mata memandang adalah helm-helm yang dipakai pemotor, ada banyak sekali, berbaur dengan angkot dan mobil pribadi. Sumpek banget. Kayaknya ada pindahan massal dari Depok ke Jakarta. Kadang gw bingung, kok bisa ya volume komuter dari Depok dan kota satelit lainnya ke Jakarta itu bisa sekian banyak? Dalam hati gw suka bilang, “Nih orang-orang mau ke mana sih bikin sumpek jalan raya aja?” Dan kalo gw bandingkan waktu bolak-balik Depok-Bogor, wah jauh deh kepadatannya. Bogor cuma padat di daerah perempatan Kedung Halang sampai Warung Jambu aja, sisanya enggak gitu-gitu amat.

macet-motor_kompas

Pangkal Masalah?

Yang gw tekankan di sini adalah, kenapa bisa ada ribuan orang bolak-balik ke Jakarta sekaligus, lewat jalur yang itu-itu aja, dan moda transportasi yang segitu-segitu aja? Masalahnya udah bukan lagi masalah moda atau insfrastruktur transportasi. Mau dibikin kereta lewat tiap menit dan jalan raya dibuat selebar tol Cikampek juga gak akan selesai. Justru malah makin menarik orang-orang di luar Jakarta buat pindah ke Jakarta dan sekitarnya.

Gw rasa ini karena sentralisasi yang kebangetan. Semuanya ada di Jakarta. Dan akibatnya, orang-orang pun pindah ke Jakarta. Mereka gak salah, karena kesempatan memang lebih banyak ada di Jakarta. Siapa sih yang gak ngiler sama gaji gede dan lapangan kerja yang banyak? Apalagi UMP naik kan, pasti makin banyak lah urbanisasi ke Jakarta dan sekitarnya.

Semakin banyak orang yang termobilisasi secara bersamaan maka semakin sumpek lah sarana dan prasarana transportasi. Makanya gw bilang, mau dikasih jalan lebar atau kereta panjang juga gak akan selesai. Malah bakal timbul masalah baru yang mungkin belum kepikiran sama kita sekarang. Buktinya apa? Lihat aja pas jam gak sibuk, atau arah berlawanannya, misal kereta Bogor-Jakarta selepas maghrib. Pasti kosong melompong. Artinya konsentrasi massa terlalu terfokus pada satu waktu yang sama dengan arah mobilitas yang sama.

foto032

Hal ini diperparah sama mental orang Indonesia sendiri yang maunya langsung enak. Pada egois, semaunya sendiri, pokoknya 80% orang Indonesia itu punya sifat yang jelek deh. Di Batam, supir Blue Bird diamuk,  mobilnya dibakar oleh sesama supir taksi dari perusahaan lain. Karena apa? Karena mereka takut kalah bersaing. Belum apa-apa udah takut. Ya iya takut, lha wong selama ini mereka suka seenaknya sendiri nembak ongkos, gak pake argo, dan cenderung arogan. Konsumen pasti pilih yang terbaik dong. Jadi, bukannya introspeksi diri dan memperbaiki kekurangan, malah ngegubrag-gubrag orang lain yang punya sistem yang jauh lebih baik. Maksudnya apa?

Gak usah jauh-jauh lagi. Di Jakarta kita bisa lihat perilaku pemotor. Gw setuju mobil itu berdimensi besar dan semakin banyak, karena itu bikin macet. Iya itu memang benar. Tapi pemotor-lah yang bikin semrawut. Dengan alasan “jalannya sempit, diambil mobil” atau “buru-buru” atau sejuta pembenaran ajaib lainnya, mereka merasa legal buat nyerobot jalur berlawanan, berkendara tanpa helm, naik ke atas trotoar, berhenti di depan garis stop lampu merah, dan sejuta tingkah aneh binti lucu lainnya yang bikin gw ketawa geli sekaligus sedih. Jadi ini toh orang Indonesia sekarang? Gak semuanya sih, tapi sekali lagi 80% dari mereka memang demikian kok.

Solusi

Seperti yang gw tulis di atas, pelebaran jalan atau penyediaan moda transportasi massal gak akan pernah menyelesaikan masalah. Justru bakal menarik lebih banyak orang lagi, karena mereka pikir kerja di Jakarta itu tambah enak. Dalam jangka pendek, iya mungkin terasa selesai. Tapi lihat aja nanti dalam jangka panjang. Masalah yang sama bakal terulang lagi.

Lihat aja KRL Jabodetabek sekarang. Alih-alih menyediakan kereta ber-AC yang nyaman, akhirnya malah gak beres karena saking banyaknya penumpang, gerbong kereta mulai rusak. AC sih jelas gak akan terasa kalo lagi sumpek. Kalo AC gak terasa, maka pintu kereta akan dibuka paksa. Dengan tarif yang lebih mahal, lalu apa kelebihan kereta commuter line yang diagung-agungkan itu dibanding kereta ekonomi? Jadinya ya kayak waktu kereta AC belum ada. Sama aja.

Maka gw juga sangsi sama langkah-langkahnya pakde Jokowi. Iya sih buat sementara waktu kayaknya keren, akhirnya Jakarta punya MRT dan monorail. Apalagi kalo udah punya subway. Keren deh, Jakarta udah kayak kota-kota besar dunia lainnya. Tapi, tetep aja Jakarta masih akan tetap kumuh seperti sekarang. Bahkan sama dua negara tetangga terdekat aja, kita masih malu-malu kucing buat bangga-banggakan Jakarta.

Yang terbaik adalah mendorong desentralisasi. Industri jangan di Jakarta semua. Kalimantan masih kosong tuh. Apalagi Indonesia Timur. Investasi emang pasti mahal di awal, tapi kalo semua industri yang berkaitan itu kompak pindah, lama-lama juga terbiasa tuh. Sekarang harga barang di luar Jawa lebih mahal, iya karena barang-barang itu dibuat di Jawa. Nah, kenapa gak dibuat di Sulawesi misalnya? Masak masih tetep lebih mahal di Sulawesi daripada di Jawa?

Kalau desentralisasi jalan dengan lancar, nanti juga akan muncul Batam-Batam lain. Pusat ekonomi gak akan lagi bertumpu di Jakarta, tapi merata ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

Masalahnya memang sih SDM di luar Jawa konon lebih “sulit”. Kalo begini, gw rasa sekalian aja bikin transmigrasi lagi. Industri bidang A pindah ke Palu, dan karyawan-karyawannya pun ditransmigrasikan ke sana, sambil di sana juga mengajarkan skill mereka ke penduduk lokal. Gw rasa ini ide sederhana, walaupun pada prakteknya gw gak gitu paham akan sesulit apa.

Lalu jangan lupa masalah pembangunan mental. Percuma punya skill bagus tapi mentalnya jelek. Nanti malah korupsi semua. Menyerobot jalur berlawanan dan merampas hak pejalan kaki di trotoar dan zebra cross adalah salah dua bentuk kecil korupsi. Siapa bilang korupsi cuma dilakukan pejabat? Kita rakyat kecil pun udah biasa korupsi. Cuma ya karena terbiasa membenarkan yang biasa, semuanya gak heboh-heboh amat. Biasakanlah yang benar, jangan membenarkan yang biasa.

Menulis dan berpikir itu mudah, menjalankannya yang sudah. Walaupun berpikir itu butuh visi yang lebih jauh daripada menjalankan, makanya gaji analis jauh lebih besar daripada buruh.

Tapi bagaimanapun, apakah kita masih pantas menyebut diri kita “orang Indonesia” kalau kita belum mampu menyumbangkan sesuatu yang berarti buat negeri ini?

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kicau

%d blogger menyukai ini: