Ini sudah bukan lagi sebuah kesalahan. Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk digunakan membela diri, karena malu ini sudah terlanjur terlumuri. Mereka tak lagi pantas hidup di sini, persetan dengan bisikan, “Mereka sudah memberikan yang terbaik yang mereka miliki.” Terbaik? Ini bisa dibilang yang terbaik? Lalu, bagaimana dengan yang terburuk? Terbayang?
Sungguh tak punya hati kalau mereka masih bisa ketawa-ketiwi di sini. Ingat, nama bangsa ini tercoreng karena ketidakbecusan kalian! Di negeri ini ada lebih dari 230 juta penduduk. Harusnya bukanlah hal sulit mencari paling tidak 11 orang terbaik yang bisa main bola. Berkedok ini-itu, padahal cuma karena gengsi, atau mungkin malas? Dan inilah hasilnya.
Mau disembunyikan di mana muka ini?
Kalah dan menang, itu biasa. Tak ada yang salah. Tapi tentu bukan kalah yang keterlaluan. Kita bukan kalah oleh tim yang juara Piala Dunia, bahkan tim terbaik di Asia. Ini lebih mirip tentara yang maju ke medan perang untuk diberondong peluru oleh musuh. Mati konyol. Mati secara konyol. Mati dengan kekonyolan. Mati sekonyol-konyolnya.
Bung Karno akan langsung mengubur dirinya lagi seandainya beliau diberi kesempatan untuk bangkit lagi. Kita memang bukan Korea Utara, tapi apakah Bung Karno yang jelas geram itu tidak akan bertindak apa-apa?
Hei kalian, mati sajalah daripada bikin malu. Seburuk-buruknya timnas Indonesia, saya gak pernah lihat timnas kalah 10-0. Jadilah mereka tim na’as. IPL? ISL? Basi, kami cuma butuh orang-orang yang punya dedikasi, sanggup memikul beban untuk membawa nama baik ibu pertiwi. Bukan segelintir orang bodoh yang dipaksakan naik ke atas panggung untuk membuat mereka terlihat lebih bodoh.
Saya gak bisa main bola sebaik mereka? Saya cuma bisa ngomong aja? Oke, saya gak bisa main bola seperti mereka. Tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika membawa nama bangsa dan negara, dan hidup yang dijalani setelah menyumbang malu yang amat sangat adalah sia-sia. Kami bukan tak menghargai, tapi kalian telah mencoreng harga diri bangsa ini. Apakah masih pantas teriak-teriak minta dihargai?
Sekali lagi, saya gak bisa main bola. Tapi saya tahu apa yang menjadi tanggung jawab saya. Dan saya gak pernah seumur hidup lihat timnas Indonesia kalah 10-0 dari lawan yang biasa-biasa saja.


Posted on 1 Maret 2012
0